Minggu, 10 Oktober 2010

Tugas Etika Bisnis ke 2

Etika Bisnis Islam

Oleh: Aris Teguh Budimanto NPM : 10207167 4EA14.

Pendahuluan

“Ku kira coklat, nggak taunya broklat, perutku jadi kacau berat, nggak! nggak

momo lagi”. Demikian sebuah pernyataan yang diperankan oleh seorang anak bertubuh

tambun dalam sebuah iklan kudapan coklat bermerk “Gery Toya-Toya” produksi Garuda

Food, yang ditampilkan dalam iklan di berbagai televisi nasional. Sekilas iklan tersebut

biasa saja, namun sesungguhnya memuat pesan yang menyerang pesaingnya bernama

”Momogi” kudapan buatan perusahaan lain. Dilain pihak beberapa iklan di televisi

menampilkan produk toiletris seperti sabun mandi, atau perawatan kulit, yang secara

sengaja mengumbar kulit mulus wanita cantik, atau kita juga disuguhkan oleh iklan obat

sekali minum sembuh, padahal proses penyembuhan penyakit tidak sesederhana itu.

Tayangan sinetron di televisi nasional juga tidak lepas dari kritik penonton , demi rating

sebagian besar televisi menyiarkan film-film berbau sex, kekerasan, mistik, horor, dan

menampilkan kemewahan ekonomi yang sesungguhnya bukan merupakan kondisi riil

masyarakat kita. Apa yang dibahas di atas merupakan gambaran betapa sebagian orang

atau organisasi melakukan berbagai cara untuk menjual produknya baik dengan cara

menyerang pesaingnya, mengumbar aurat atau melakukan kebohongan publik. Apakah

bisnis merupakan profesi etis? Atau sebaliknya ia menjadi profesi kotor? Kalau profesi

kotor penuh tipu menipu, mengapa begitu banyak orang yang menekuninya bahkan bangga

dengan itu? Lalu kalau ini profesi kotor betapa mengerikan masyarakat modern ini yang

didominasi oleh kegiatan bisnis ini (Sony Keraf:2000).

Bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks. Banyak faktor turut

mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis. Antara lain faktor organisatoris

manajerial, ilmiah teknologis, dan politik-sosial-kultural, Kompleksitas bisnis itu kegiatan

sosial, bisnis dengan kompleksitas masyarakat modern sekarang. Sebagai kegiatan sosial,

bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat modern itu. Semua

faktor yang membentuk kompleksitas bisnis modern sudah sering dipelajari dan dianalisis

melalui pendekatan ilmiah, khususnya ilmu ekonomi dan teori manajemen (K. Bertens:

2000)

Etika bisnis

Etika sebagai praktis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktikan atau

justru tidak dipraktikan, walaupun seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai refleksi adalah

pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan

khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Secara filosofi

etika memiliki arti yang luas sebagai pengkajian moralitas. Terdapat tiga bidang dengan

fungsi dan perwujudannya yaitu etika deskriptif (descriptive ethics), dalam konteks ini

secara normatif menjelaskan pengalaman moral secara deskriptif berusaha untuk

mengetahui motivasi, kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam tingkah laku manusia.

Kedua, etika normatif (normative ethics), yang berusaha menjelaskan mengapa manusia

bertindak seperti yang mereka lakukan, dan apakah prinsip-prinsip dari kehidupan

manusia. Ketiga, metaetika (metaethics), yang berusaha untuk memberikan arti istilah dan

bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk

membenarkan pernyataan-pernyataan etika. Metaetika mempertanyakan makna yang

dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang dipakai untuk membuat

tanggapan-tanggapan kesusilaan (Bambang Rudito dan Melia Famiola: 2007)

Apa yang mendasari para pengambil keputusan yang berperan untuk pengambilan

keputusan yang tak pantas dalam bekerja? Para manajer menunjuk pada tingkah laku dari

atasan-atasan mereka dan sifat alami kebijakan organisasi mengenai pelanggaran etika atau

moral. Karenanya kita berasumsi bahwa suatu organisasi etis, merasa terikat dan dapat

mendirikan beberapa struktur yang memeriksa prosedur untuk mendorong oraganisasi ke

arah etika dan moral bisnis. Organisasi memiliki kode-kode sebagai alat etika perusahaan

secara umum. Tetapi timbul pertanyaan: dapatkah suatu organisasi mendorong tingkah

laku etis pada pihak manajerial-manajerial pembuat keputusan? (Laura Pincus

hartman:1998)

Alasan mengejar keuntungan, atau lebih tepat, keuntungan adalah hal pokok bagi

kelangsungan bisnis merupakan alasan utama bagi setiap perusahaan untuk berprilaku

tidak etis. Dari sudut pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk, bahkan secara

moral keuntungan merupakan hal yang baik dan diterima. Karena pertama, secara moral

keuntungan memungkinkan perusahaan bertahan (survive) dalam kegiatan bisnisnya.

Kedua, tanpa memperoleh keuntungan tidak ada pemilik modal yang bersedia

menanamkan modalnya, dan karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas ekonomi yang

produktif dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Ketiga, keuntungan tidak hanya

memungkinkan perusahaan survive melainkan dapat menghidupi karyawannya ke arah

tingkat hidup yang lebih baik. Keuntungan dapat dipergunakan sebagai pengembangan

(expansi) perusahaan sehingga hal ini akan membuka lapangan kerja baru.

Dalam mitos bisnis amoral diatas sering dibayangkan bisnis sebagai sebuah medan

pertempuran. Terjun ke dunia bisnis berarti siap untuk betempur habis-habisan dengan

sasaran akhir yakni meraih keuntungan, bahkan keuntungan sebesar-besarnya secara

konstan. Ini lebih berlaku lagi dalam bisnis global yang mengandalkan persaingan ketat.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apakah tujuan keuntungan yang dipertaruhkan

dalam bisnis itu bertentangan dengan etika? Atau sebaliknya apakah etika bertentangan

dengan tujuan bisnis mencari keuntungan? Masih relevankah kita bicara mengenai etika

bagi bisnis yang memiliki sasaran akhir memperoleh keuntungan?

Dalam mitos bisnis modern para pelaku bisnis dituntut untuk menjadi orang-orang

profesional di bidangnya. Mereka memiliki keterampilan dan keahlian bisnis melebihi orang

kebanyakan, ia harus mampu untuk memperlihatkan kinerja yang berada diatas rata-rata

kinerja pelaku bisnis amatir. Yang menarik kinerja ini tidak hanya menyangkut aspek

bisnis, manajerial, dan organisasi teknis semata melainkan juga menyangkut aspek etis.

Kinerja yang menjadi prasarat keberhasilan bisnis juga menyangkut komitmen moral,

integritas moral, disiplin, loyalitas, kesatuan visi moral, pelayanan, sikap mengutamakan

mutu, penghargaan terhadap hak dan kepentingan pihak-pihak terkait yang berkepentingan

(stakeholders), yang lama kelamaan akan berkembang menjadi sebuah etos bisnis dalam

sebuah perusahaan. Perilaku Rasulullah SAW yang jujur transparan dan pemurah dalam

melakukan praktik bisnis merupakan kunci keberhasilannya mengelola bisnis Khodijah ra,

merupakan contoh kongkrit tentang moral dan etika dalam bisnis.

Dalam teori Kontrak Sosial membagi tiga aktivitas bisnis yang terintegrasi. Pertama adalah

Hypernorms yang berlaku secara universal yakni ; kebebasan pribadi, keamanan fisik &

kesejahteraan, partisipasi politik, persetujuan yang diinformasikan, kepemilikan atas harta,

hak-hak untuk penghidupan, martabat yang sama atas masing-masing orang/manusia.

Kedua, Kontrak Sosial Makro, landasan dasar global adalah; ruang kosong untuk muatan

moral, persetujuan cuma-cuma dan hak-hak untuk diberi jalan keluar, kompatibel dengan

hypernorms, prioritas terhadap aturan main. Ketiga, Kontrak Sosial Mikro, sebagai

landasan dasar komunitas; tidak berdusta dalam melakukan negosiasi-negosiasi,

menghormati semua kontrak, memberi kesempatan dalam merekrut pegawai bagi

penduduk lokal, memberi preferensi kontrak para penyalur lokal, menyediakan tempat

kerja yang aman (David J. Frizsche: 1997)

Dalam semua hubungan, kepercayaan adalah unsur dasar. Kepercayaan diciptakan dari

kejujuran. Kejujuran adalah satu kualitas yang paling sulit dari karakter untuk dicapai

didalam bisnis, keluarga, atau dimanapun gelanggang tempat orang-orang berminat untuk

melakukan persaingan dengan pihak-pihak lain. Selagi kita muda kita diajarkan, di dalam

tiap-tiap kasus ada kebajikan atau hikmah yang terbaik. Kebanyakan dari kita didalam

bisnis mempunyai satu misi yang terkait dengan rencana-rencana. Kita mengarahkan energi

dan sumber daya kita ke arah tujuan keberhasilan misi kita yang kita kembangkan

sepanjang perjanjian-perjanjian. Para pemberi kerja tergantung pada karyawan, para

pelanggan tergantung pada para penyalur, bank-bank tergantung pada peminjam dan pada

setiap pelaku atau para pihak sekarang tergantung pada para pihak terdahulu dan ini akan

berlangsung secara terus menerus. Oleh karena itu kita menemukan bahwa bisnis yang

berhasil dalam masa yang panjang akan cenderung untuk membangun semua hubungan

atas mutu, kejujuran dan kepercayaan (Richard Lancaster dalam David Stewart: 1996)

Etika Bisnis Islami

Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980

an dan menjadi fenomena global di tahun 1990 an jika sebelumnya hanya para teolog dan

agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai

terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap

sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika

Serikat, akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolak

kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian

besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang

menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya.

Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap

perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang,

dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al

Qur’an terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang

mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) ”Allah telah menghalalkan perdagangan

dan melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat

strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat

pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di

dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. Dawam Rahardjo justru

mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai

tanggungjawab manusia terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam.

Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi

diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak.

Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis

Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya,

dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak

mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis

yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran

(QS: Al Ahzab;70-71). Sebagian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha

senantiasa terbuka dan transparan dalam jual belinya ”Tetapkanlah kejujuran karena

sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan

mengantarkan kepada surga” (Hadits). Akhlak yang lain adalah amanah, Islam

menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya

dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsur

yang melampaui batas atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat

dipercaya, sehingga ia tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ”Tidak

ada iman bagi orang yang tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada

agama bagi orang yang tidak menepati janji”, ”pedagang yang jujur dan amanah

(tempatnya di surga) bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada”

(Hadits). Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka

kunci rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan,

mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ”Allah mengasihi

orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang” (Hadits).

Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal

apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu ”Hai orang yang beriman,

penuhilah akad-akad itu” (QS: Al- Maidah;1), ”Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu

pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan

orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah ”Tanda-tanda munafik itu tiga

perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia

khianat” (Hadits).

Aktivitas Bisnis yang Terlarang dalam Syariah

1. Menghindari transaksi bisnis yang diharamkan agama Islam. Seorang muslim harus

komitmen dalam berinteraksi dengan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT. Seorang

pengusaha muslim tidak boleh melakukan kegiatan bisnis dalam hal-hal yang

diharamkan oleh syariah. Dan seorang pengusaha muslim dituntut untuk selalu

melakukan usaha yang mendatangkan kebaikan dan masyarakat. Bisnis, makanan tak

halal atau mengandung bahan tak halal, minuman keras, narkoba, pelacuran atau

semua yang berhubungan dengan dunia gemerlap seperti night club discotic cafe

tempat bercampurnya laki-laki dan wanita disertai lagu-lagu yang menghentak,

suguhan minuman dan makanan tak halal dan lain-lain (QS: Al-A’raf;32. QS: Al

Maidah;100) adalah kegiatan bisnis yang diharamkan.

2. Menghindari cara memperoleh dan menggunakan harta secara tidak halal. Praktik riba

yang menyengsarakan agar dihindari, Islam melarang riba dengan ancaman berat (QS:

Al Baqarah;275-279), sementara transaksi spekulatif amat erat kaitannya dengan bisnis

yang tidak transparan seperti perjudian, penipuan, melanggar amanah sehingga besar

kemungkinan akan merugikan. Penimbunan harta agar mematikan fungsinya untuk

dinikmati oleh orang lain serta mempersempit ruang usaha dan aktivitas ekonomi

adalah perbuatan tercela dan mendapat ganjaran yang amat berat (QS:At Taubah; 34 –

35). Berlebihan dan menghamburkan uang untuk tujuan yang tidak bermanfaat dan

berfoya-foya kesemuanya merupakan perbuatan yang melampaui batas. Kesemua sifat

tersebut dilarang karena merupakan sifat yang tidak bijaksana dalam penggunaan harta

dan bertentangan dengan perintah Allah (QS: Al a’raf;31).

3. Persaingan yang tidak fair sangat dicela oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam

Al-Qur’an surat Al Baqarah: 188: ”Janganlah kamu memakan sebagian harta sebagian

kamu dengan cara yang batil”. Monopoli juga termasuk persaingan yang tidak fair

Rasulullah mencela perbuatan tersebut : ”Barangsiapa yang melakukan monopoli maka

dia telah bersalah”, ”Seorang tengkulak itu diberi rezeki oleh Allah adapun sesorang

yang melakukan monopoli itu dilaknat”. Monopoli dilakukan agar memperoleh

penguasaan pasar dengan mencegah pelaku lain untuk menyainginya dengan berbagai

cara, seringkali dengan cara-cara yang tidak terpuji tujuannya adalah untuk

memahalkan harga agar pengusaha tersebut mendapat keuntungan yang sangat besar.

Rasulullah bersabda : ”Seseorang yang sengaja melakukan sesuatu untuk memahalkan

harga, niscaya Allah akan menjanjikan kepada singgasana yang terbuat dari api neraka

kelak di hari kiamat”.

4. Pemalsuan dan penipuan, Islam sangat melarang memalsu dan menipu karena dapat

menyebabkan kerugian, kezaliman, serta dapat menimbulkan permusuhan dan

percekcokan. Allah berfirman dalam QS:Al-Isra;35: ”Dan sempurnakanlah takaran

ketika kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar”. Nabi bersabda

”Apabila kamu menjual maka jangan menipu orang dengan kata-kata manis”.

Dalam bisnis modern paling tidak kita menyaksikan cara-cara tidak terpuji yang

dilakukan sebagian pebisnis dalam melakukan penawaran produknya, yang dilarang

dalam ajaran Islam. Berbagai bentuk penawaran (promosi) yang dilarang tersebut

dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a) Penawaran dan pengakuan (testimoni) fiktif, bentuk penawaran yang dilakukan

oleh penjual seolah barang dagangannya ditawar banyak pembeli, atau seorang

artis yang memberikan testimoni keunggulan suatu produk padahal ia sendiri tidak

mengkonsumsinya.

b) Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan, berbagai iklan yang sering kita saksikan

di media televisi, atau dipajang di media cetak, media indoor maupun outdoor,

atau kita dengarkan lewat radio seringkali memberikan keterangan palsu.

c) Eksploitasi wanita, produk-produk seperti, kosmetika, perawatan tubuh, maupun

produk lainnya seringkali melakukan eksploitasi tubuh wanita agar iklannya

dianggap menarik. Atau dalam suatu pameran banyak perusahaan yang

menggunakan wanita berpakaian minim menjadi penjaga stand pameran produk

mereka dan menugaskan wanita tersebut merayu pembeli agar melakukan

pembelian terhadap produk mereka.

Model promosi tersebut dapat kita kategorikan melanggar ’akhlaqul karimah’, Islam

sebagai agama yang menyeluruh mengatur tata cara hidup manusia, setiap bagian tidak

dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Demikian pula pada proses jual beli harus

dikaitkan dengan ’etika Islam’ sebagai bagian utama. Jika penguasa ingin mendapatkan

rezeki yang barokah, dan dengan profesi sebagai pedagang tentu ingin dinaikkan

derajatnya setara dengan para Nabi, maka ia harus mengikuti syari’ah Islam secara

menyeluruh, termasuk ’etika jual beli’.

Etika Pemasaran

Dalam konteks etika pemasaran yang bernuansa Islami, dapat dicari pertimbangan dalam

Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan dua persyaratan dalam proses bisnis yakni persyaratan

horizontal (kemanusiaan) dan persyaratan vertikal (spritual). Surat Al-Baqarah

menyebutkan ”Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada yang diragukan didalamnya. Menjadi

petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Ayat ini dapat dijadikan sebagai pedoman

dalam etika marketing:

1. Allah memberi jaminan terhadap kebenaran Al-Qur’an, sebagai reability product

guarantee.

2. Allah menjelaskan manfaat Al-Qur’an sebagai produk karyaNya, yakni menjadi hudan

(petunjuk).

3. Allah menjelaskan objek, sasaran, customer, sekaligus target penggunaan kitab suci

tersebut, yakni orang-orang yang bertakwa.

Isyarat diatas sangat relevan dipedomani dalam melakukan proses marketing, sebab

marketing merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi mesin suatu perusahaan.

Mengambil petunjuk dari kalimat ”jaminan” yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, maka

dalam rangka penjualan itupun kita harus dapat memberikan jaminan bagi produk yang

kita miliki. Jaminan tersebut mencakup dua aspek:

􀂷 Aspek material, yakni mutu bahan, mutu pengobatan, dan mutu penyajian.

􀂷 Aspek non material, mencakup; ke-Halalan, ke-Thaharahan (Higienis), dan ke-Islaman

dalam penyajian.

Bahwa jaminan terhadap kebaikan makanan itu baru sebagian dari jaminan yang perlu

diberikan, disamping ke-Islaman sebagai proses pengolahan dan penyajian, serta

ke-Halalan, ke-Thaharahan. Jadi totalitas dari keseluruhan pekerjaan dan semua bidang

kerja yang ditangani di dalam dan di luar perusahaan merupakan integritas dari ”jaminan”.

Urutan kedua yang dijelaskan Allah adalah manfaat dari apa yang dipasarkan. Jika ini

dijadikan dasar dalam upaya marketing, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan

penjelasan mengenai manfaat produk (ingridients) atau manfaat proses produksi

dijalankan. Adapun metode yang dapat digunakan petunjuk Allah: ”Beritahukanlah

kepadaku (berdasarkan pengetahuan) jika kamu memang orang-orang yang benar”.

(QS:Al-An’am;143). Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk meyakinkan

seseorang terhadap kebaikan yang kita jelaskan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan,

data dan fakta. Jadi dalam menjelaskan manfaat produk, nampaknya peranan data dan

fakta sangat penting, bahkan seringkali data dan fakta jauh lebih berpengaruh dibanding

penjelasan. Sebagaimana orang yang sedang dalam program diet sering kali

memperhatikan komposisi informasi gizi yang terkandung dalam kemasan makanan yang

akan dibelinya.

Ketiga adalah penjelasan mengenai sasaran atau customer dari produk yang kita miliki.

Dalam hal ini kita dapat menjelaskan bahwa makanan yang halal dan baik (halalan

thoyyiban), yang akan menjadi darah dan daging manusia, akan membuat kita menjadi taat

kepada Allah, sebab konsumsi yang dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan harus

memenuhi tiga unsur :

􀂷 Materi yang halal

􀂷 Proses pengolahan yang bersih (Higienis)

􀂷 Penyajian yang Islami

Etika Marketing dapat dijabarkan dalam diagram berikut :

Sumber : Islamic Business Strategy for Entrepreneurship, Tim Multitama Communication, 2007

Perusahaan Menjual

Al-Qur’an Al-Hadits

Menjamin

Kriteria

Penggunaan

Konsumen Sehat, Cerdas, Muttaqin

Menjelaskan

Kegunaan

Produksi

Dalam proses pemasaran promosi merupakan bagian penting, promosi adalah upaya

menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana seseorang sebaiknya

mempromosikan barang dagangannya? Selain sebagai Nabi Rasulullah memberikan teknik

sales promotion yang jitu kepada seorang pedagang. Dalam suatu kesempatan beliau

mendapati seseorang sedang menawarkan barang dagangannya. Dilihatnya ada yang

janggal pada diri orang tersebut. Beliau kemudian memberikan advis kepadanya :

”Rasulullah lewat di depan sesorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang

tersebut jangkung sedang baju yang ditawarkan pendek. Kemudian Rasululllah berkata;

”Duduklah! Sesungguhnya kamu menawarkan dengan duduk itu lebih mudah

mendatangkan rezeki.” (Hadits).

Dengan demikian promosi harus dilakukan dengan cara yang tepat, sehingga menarik

minat calon pembeli. Faktor tempat dan cara penyajian serta teknik untuk menawarkan

produk dilakukan dengan cara yang menarik. Faktor tempat meliputi desain interior yang

serasi yang serasi, letak barang yang mudah dilihat, teratur, rapi dan sebagainya.

Memperhatikan hadits Rasulullah diatas sikap seorang penjual juga merupakan faktor yang

harus diperhatikan bagi keberhasilan penjualan. Selain faktor tempat, desain interior, letak

barang dan lain-lain.

Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam Islam posisi pebisnis pada dasarnya adalah

profesi yang terpuji dan mendapat posisi yang tinggi sepanjang ia mengikuti koridor

syari’ah. Muamalah dalam bentuk apapun diperbolehkan sepanjang ia tidak melanggar dalil

syar’i. Islam melarang seorang Muslim melakukan hal yang merugikan dan mengakibatkan

kerusakan bagi orang lain sebagaimana disebutkan dalam haditsnya. Rasululllah bersabda :

”La dlaraara wala dliraara” (HR. Ibn Abbas).

Daftar Pustaka

Bambang Rudito & Melia Famiola, 2007. Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan di Indonesia.

Fritzche David J, 1997, Business Ethics, A Global and Managerial Perspective, McGraw

Hill Companies, Inc.

Hadhiri Choiruddin SP, 1993. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an, Gema Insani Press.

Hermant Laura Pincus, 1998. Perspective in Business Ethics, Irvin McGraw Hill

Tim Multitama Communication, 2006. Islamic Business Strategy for Entrepreneurship,

Zikrul Media Intelektual.

K. Bertens, 2000. Pengantar Etika Bisnis, Penerbit Kanisius.

Muhammad Dawabah Asyraf, 2005. The Moslem Entrepreneur, Kiat Sukses Pengusaha

Muslim, Zikrul Media Intelektual.

Stewart David, 1966, Business Ethic, McGraw Hill Companies, Inc.

Sabtu, 22 Mei 2010

Tugas Bahasa indonesia (Lamaran Pekerjaan)

HRD & GA Division

PT Millenium Muda Mandiri Fia : Andri Zakaria

Menara Hijau, 14th Floor, Jl. MT Haryono Kav. 33, Jakarta 12770



Dear Sir,





According to information from mailing list and with my thirteen years experiences at Ceramic Industry, I would like to apply as Supervisor QC at Dar Ceramic Saudi Company. My name is Aris Teguh Budimanto , I am thirty five years old. I graduated from Senior high School, and I have been studiing in Gunadarma Univercity Smester 6



.I am currently working as a Supervisor QC Floor Tile Plant at PT.KIA Ceramics ,The First Ceramic Industry in Indonesia and now known as one of the reliable ceramic manufacturer in nation wide and also overseas. KIA had utilized the Italian technology and got the best ICSA (Indonesian Customer Sastisfaction Award) three times and TOP BRAND award mostly every years.



Recently., I am hadling Qc departement . I also manage 4 Foreman / Group Leaders and 12 Operators and directly report to Qc Manager , beside that I ever had appointed as Shift Production Supertendant which controlling all units and whole process including Glazingline unit.and I ever had in charge as Glazingg Line Supertendant for few months when he wasn’t on duty.. I usually and ever conducted several projects



My personality is a highy motivated , inspirational and fast learner person.I believe It would bring benefits to your company. I will be very appreciated if you could give an opportunity to work in your company.



I enclosed my resume, which indicates some details of my trainings and experiences. I sincerely hope that my qualifications are interested to you and an interview might be arranged to your convenience.



Thank you for your consideration. I look forward to hearing from you soon



Sincerely yours,











Aris Teguh Budimanto





Attention To:

HRD Manager

Tugas Bahasa indonesia (Karya Ilmiah)

Karya Ilmiah



Jambu biji (Guava psidium guanjava linn)



Buah jambu biji (Guava psidium guanjava linn) berbentuk bulat lonjong dengan kulit buah berwarna hijau kekuningan. Daging buahnya berwarna putih dan merah, bertekstur lunak, rasanya manis dan terdapat banyak biji kecil-kecil di tengahnya. Kandungan zat gizi dan fitonutrein :



1. vitamin C ( 9 kali lebih banyak dari buah jeruk )
2. Mineral besi, potasium/kalium, kalsium dan fosfor.
3. Pektin dan Tanin
4. serat

Manfaat jambu biji

1. Memperlancar pencdernaan dan mencegah konstipasi.
2. Sebagai antioksidan dan antikanker
3. Mencegah dan mengobati sariawan
4. Menurunkan kadar kolesterol



Seseorang dikatakan mengalami gangguan kolesterol bila kadar kolesterol dalam darahnya diatas 200mg/dl. Semakin tinggi kolesterol dalam darah, semakin besar pula resiko terkena pengerasan serta penyempitan pembuluh darah(atherosklerosis), yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner maupun strok.

Jambu biji bisa digunakan sebagai bahan jus untuk menurunkan kadar kolesterol. selain di konsumsi dalam bentuk buah segar jambu biji akan lebih terasa nikmat jika dibuat dalam bentuk jus. Ada beberapa jenis jus jambu biji yang dapat di buat, antara lain jus jambu biji dan jambu biji dingin, namun selanjudnya seleralah yang mungkin akan memilih mana yang lebih nyaman untuk di konsumsi.

Cara pembuatan jus jambu

* Jus Jambu Biji

Bahan :
1. Daging jambu biji ( tanpa biji ) ( 150g)
2. Air es 100 ml
3. Es batu secukupnya


Cara Pembuatan:

1. Campur semua bahan kecuali es batu lalu di blender
2. Hidangkan dengan di beri es batu ( untuk 2 gelas )



Jambu Biji Dingin

Bahan :

3. Daging jambu biji ( tanpa biji ) ( 150g)
4. Air jeruk ¼ gelas
5. Air jeruk nipis 1 ½ sdt
6. Es serut ¼ gelas.

Cara Pembuatan
7. campurkan semua bahan lalu di blender
8. Hidangkan segera ( untuk 2 gelas ).


Pada proses pembuatan jus ini kita menggunakan blender atau Juicer. Alat ini yang paling sering di gunakan untuk membuat jus.



Cara menggunakan blender adalah sebagai berikut :

1. Potong kecil-kecil buah dan sayur yang telah di cuci bersih.
2. Tambahkan air atau bahan tambahan lainnya.
3. Nyalakan blender hingga pisaunya memutas dan menghancurkan semua bahan hingga halus.

Jus yang menggunakan blender masih mengandung serat baik berupa serat makanan yang larut air maupun serat kasar berupa ampas yang tidak larut air. Serat sangat bermanfaat bagi pencernaan yaitu menunda kekosongan lambung, mencegah konstipasi serta menurunkan kadar kolesterol darah.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan agar jus yang dihasilkan memiliki khasiat dan manfaat antara lain :

1. Buah harus dalam keadaan segar, karena masih mengandung zat gizi yang lengkap
2. Buah dalam kondisi matang optimal, jangan sampai buah yang digunakan belum matang atau lewat matang karena.



3. Buah terlebih dahulu di cuci sebelum dipotong
4. Dapat dilakukan pemberian bahan tambahan tapi perlu diingat penambahan gula, sirup dan madu tidak dianjurkan bagi penderida diabeter melitus.
5. Jus segera diminum setelah dibuat.
6. Mengkonsumsi jus akan terasa efektif dan efisien bila menjadi bagian dari terapi nutrisi atau diet alami yang murni dan menyeluruh. hal ini dikarenakan tubuh tidak akan bertahan hanya dengan mengkonsumsi cairan. Oleh karena itu pengaturan pola makan sehari-hari yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan tubuh juga perlu diimbangi. Dengan demikian mengonsumsi jus dapat berperan dalam pengendalian berbagai penyakit. Konsep menu seimbang dan beraneka ragam juga harus tetap di jalankan.

Jumat, 12 Maret 2010

Tugas Bahasa Indonesia

CURRICULUM VITAE
Nama Aris Teguh Budimanto


Tempat, Tanggal Lahir Kebumen, 22 Desember 1974
Alamat Prum Limus Pratama Regency Block C6/16
Telepon 021-82494447 / Hp 08128189448
Agama Islam
Jenis Kelamin Laki-Laki
Status Perkawinan Kawin
Email aris_tobe74@yahoo.co.id


Pendidikan
2008 – 2010 S1, Ekonomi , Manajenen Universitas Gunadarma Kampus “ J “ X-Malang
1991 – 1994 SMAN 55 Jakarta Selatan
1989 – 1991 SMPN 124 Duren Tiga Jakarta Selatan
1983 – 1989 SDN Menteng Dalam 03 Pagi
Pengalaman Kerja




1997 – 2002




Quality Control Final Inspection, PT. Keramika Indonesia Assosiasi

2002 – Sekarang


SPV QC FTC PT.KIA Ceramics


Training, Seminar & Kursus
September 2006 Pelatihan Teknisi Komputer Universitas Gunadarma X-Malang
Juli 2008 Seminar Pengenalan Virus-Virus Lokal Serta Penanganannya Menggunakan PC Media Anti Virus, Jakarta
Agustus 2008 Product Knowladge tentang Keramik
Judul Skripsi
Maret – September 2009 Sistem Informasi Penjualan Keramik PT. KIA Menggunakan PHP dan MYSQL
Kemampuan
Software Operasi Sistem Windows & Linux (Operasional & Instalasi)
Microsoft Office Packet (MS Word, MS Excel, MS Power Point )
PHP Program
MySQL Database

Hardware Trobleshooting PC
Instalasi Jaringan Komputer (networking)

IPK (Indeks Prestasi Keseluruhan) : 3,06

Tugas Bahasa Imdonesia

Tugas Bahasa Indonesia Aris Teguh B / 3EA14 / 10207167

Contoh- contoh silogisme kategorial :
1.Silogisme harus terdiri atas 3 term, yaitu mayor, minor, dan penengah.
Semua prajurit harus giat berlatih. ( Mayor )
Jono adalah seorang prajurit. ( Minor )
Jono harus giat berlatih. ( Penengah )
2.Silogisme terdiri atas 3 preposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan simpulan
Semua manusia bijaksana ( Premis mayor )
Semua Dosen bijaksana ( Premis minor )
Jadi emua dosen bijaksana ( Simpulan )
3.Dua premis yg negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Semua manusia tidak buta.
Semua hewan bukan manusia.
4.Bila salah satu premisnya negatif maka simpulanya pasti negatif.
Tidak se-ekor badakpun zebra.
Semua badak bercula
Jadi tidak se-ekor zebrapun bercula
5.Dari premis yang positif akan dihasilkan simpulan yang positif pula.
Semua muslim sholat
Budi seorang muslim.
Budi harus sholat
6.Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik simpulan
Sebagian orang sukses kuliah
Sebagian masyarakat sukses.
7.Bila salah satu premisnya khusus maka simpulannya akan bersifat khusus
Semua unggas bertelur
Burung unta termasuk unggas
Burung unta bertelur
8.Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik simpulan
Beberapa manusia adalah pintar,tidak se-ekor kerapun manusia.

tugas bahasa Indonesia " EYD "

Ejaan Yang Disempurnakan


Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) bagi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Di Malaysia ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan".
Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
• 'tj' menjadi 'c' : tjutji → cuci
• 'dj' menjadi 'j' : djarak → jarak
• 'oe' menjadi 'u' : oemoem -> umum
• 'j' menjadi 'y' : sajang → sayang
• 'nj' menjadi 'ny' : njamuk → nyamuk
• 'sj' menjadi 'sy' : sjarat → syarat
• 'ch' menjadi 'kh' : achir → akhir
• awalan 'di-' dan kata depan 'di' dibedakan penulisannya. Kata depan 'di' pada contoh "di rumah", "di sawah", penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara 'di-' pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Untuk penjelasan lanjutan tentang penulisan tanda baca, dapat dilihat pada Penulisan tanda baca sesuai EYD
Dari Ejaan van Ophuijsen Hingga EYD

1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.:
a. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', pa', dinamai'.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Melindo
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.
4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.

1. Perubahan Huruf
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan
dj djalan, djauh j jalan, jauh
j pajung, laju y payung, layu
nj njonja, bunji ny nyonya, bunyi
sj isjarat, masjarakat sy isyarat, masyarakat
tj tjukup, tjutji c cukup, cuci
ch tarich, achir kh tarikh, akhir

2. Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.

f maaf, fakir
v valuta, universitas
z zeni, lezat

3. Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai

a : b = p : q
Sinar-X

4. Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

di- (awalan) di (kata depan)
ditulis di kampus
dibakar di rumah
dilempar di jalan
dipikirkan di sini
ketua ke kampus
kekasih ke luar negeri
kehendak ke atas

5. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat
Sumber: Cermat Berbahasa Indonesia, Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai


Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD dalam Bahasa Indonesia
Mon, 24/04/2006 - 11:32pm — godam64
Ejaan yang disempurnakan atau yang lebih dekenal dengan singkatan EYD adalah ejaan yang mulai resmi dipakai dan digunakan di Indonesia tanngal 16 agustus 1972. Ejaan ini masih tetap digunakan hingga saat ini. EYD adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan bahasa indonesia resmi. EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring.
1. Penggunaan Huruf Besar atau Huruf Kapital
a. Huruf pertama kata ganti "Anda"
- Ke mana Anda mau pergi Bang Toyib?
- Saya sudah menyerahkan uang itu kepada Anda setahun yang lalu untuk dibelikan PS3.
b. Huruf pertama pada awal kalimat.
- Ayam kampus itu sudah ditertibkan oleh aparat pada malam jumat kliwon kemarin.
- Anak itu memang kurang ajar.
- Sinetron picisan itu sangat laku dan ditonton oleh jutaan pemirsanya sedunia.
c. Huruf pertama unsur nama orang
- Yusuf Bin Sanusi
- Albert Mangapin Sidabutar
- Slamet Warjoni Jaya Negara
d. Huruf pertama untuk penamaan geografi
- Bunderan Senayan
- Jalan Kramat Sentiong
- Sungai Ciliwung
e. Huruf pertama petikan langsung
- Pak kumis bertanya, "Siapa yang mencuri jambu klutuk di kebunku?"
- Si panjul menjawab, "Aku tidak Mencuri jambu klutuk, tetapi yang kucuri adalah jambu monyet".
- "Ngemeng aja lu", kata si Ucup kepada kawannya si Maskur.
f. Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau instansi.
- Camat Pesanggrahan
- Profesor Zainudin Zidane Aliudin
- Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional
g. Huruf Pertama pada nama Negara, Pemerintahan, Lembaga Negara, juga Dokumen (kecuali kata dan).
- Mahkamah Internasional
- Republik Rakyat Cina
- Badan Pengembang Ekspor Nasional























EYD
A.Penulisan Huruf
1. Huruf kapital atau huruf besar
A. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Kami menggunakan barang produksi dalam negeri.
Siapa yang datang tadi malam?
Ayo, angkat tanganmu tinggi-tinggi!
B. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, ”Kapan kita ke Taman Safari?”
Bapak menasihatkan, ”Jaga dirimu baik-baik, Nak!”
C. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan nama kitab suci, termasuk ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Islam, Kristen, Alkitab, Quran, Weda, Injil.
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hambanya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
D.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim, Raden Wijaya.
E..Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Presiden Yudhoyono, Mentri Pertanian, Gubernur Bali.
Profesor Supomo, Sekretaris Jendral Deplu.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
Kapten Amir telah naik pangkat menjadi mayor.
Keponakan saya bercita-cita menjadi presiden.
F. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Albar Maulana
Kemal Hayati
Muhammad Rahyan
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 watt
2 ampere
5 volt
G. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa-bangsa dan bahasa. Perlu diingat, posisi tengah kalimat, yang dituliskan dengan huruf kapital hanya huruf pertama nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa; sedangkan huruf pertama kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil.
Penulisan yang salah:
Dalam hal ini Bangsa Indonesia yang ….
…. tempat bermukim Suku Melayu sejak ….
…. memakai Bahasa Spanyol sebagai ….
Penulisan yang benar:
Dalam hal ini bangsa Indonesia yang ….
…. tempat bermukim suku Melayu sejak ….
…. memakai bahasa Spanyol sebagai ….
Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
keinggris-inggrisan
menjawakan bahasa Indonesia
H. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Saka
bulan November
hari Jumat
hari Natal
perang Dipenogoro
Huruf kapital tidak dipakai sebagi huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Ir. Soekarno dan Drs. Moehammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Perlombaan persenjataan nuklir membawa risiko pecahnya perang dunia.
I. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya:
Salah Benar
teluk Jakarta Teluk Jakarta
gunung Semeru Gunung Semeru
danau Toba Danau Toba
selat Sunda Selat Sunda

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
Jangan membuang sampah ke sungai.
Mereka mendaki gunung yang tinggi.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam inggris
gula jawa
soto madura
J. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, nama resmi badan/
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
Departemen Pendidikan Nasional RI
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Undang-Undang Dasar 1945
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi lembaga pemerintah, ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Perhatikan penulisan berikut.
Dia menjadi pegawai di salah satu departemen.
Menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum.
K. Huruf kapital dipakai sebagai huruf kapital setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/ lembaga.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.
L. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, dalam, yang, untuK yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Idrus menulis buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia agen surat kabar Suara Pembaharuan.
Ia menulis makalah ”Fungsi Persuasif dalam Bahasa Iklan Media Elektronik”.
M. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Saudara, Kakak, Adik, Paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
”Kapan Bapak berangkat?” tanya Nining kepada Ibu.
Para ibu mengunjungi Ibu Febiola.
Surat Saudara sudah saya terima.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan.
Misalnya:
Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
N. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
Dr. : doktor
M.M. : magister manajemen
Jend. : jendral
Sdr. : saudara
O. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Apakah kegemaran Anda?
Usulan Anda telah kami terima.

2.Huruf Miring
A. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.
Misalnya:
majalah Prisma
tabloid Nova
Surat kabar Kompas
B. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata Allah ialah a
Dia bukan menipu, melainkan ditipu
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
C. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang sudah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah padi ialah Oriza sativa.
Politik devide et impera pernah merajalela di benua hitam itu.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut.
Negara itu telah mengalami beberapa kudeta (dari coup d’etat)

B. Penulisan Kata
1. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Kantor pos sangat ramai.
Buku itu sudah saya baca.
Adik naik sepeda baru
(ketiga kalimat ini dibangun dengan gabungan kata dasar)
1. Kata Turunan
A. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
berbagai ketetapan sentuhan
gemetar mempertanyakan terhapus
B. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
diberi tahu, beri tahukan
bertanda tangan, tanda tangani
berlipat ganda, lipat gandakan
C. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
memberitahukan
ditandatangani
melipatgandakan
1. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk,
mondar-mandir, porak-poranda, biri-biri, kupu-kupu, laba-laba.

1. Gabungan Kata
A. Gabungan kata yang lazim disebutkan kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kerja sama, kereta api cepat luar biasa, meja tulis, orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.
B. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Misalnya:
alat pandang-dengar (audio-visual), anak-istri saya (keluarga), buku sejarah-baru (sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda (ayat ibu muda) kaki-tangan penguasa (alat penguasa)
C. Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata.
Misalnya:
acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, halal-bihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan.
D. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, inkonvensional, kosponsor,
mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna,
prasangka, purna-wirawan, swadaya, telepon, transmigrasi.
Jika bentuk terikan diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur kata itu
ditulisakan tanda hubung (-).
Misalnya: non-Asia, neo-Nazi
1. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk singkat kata aku dan engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

aku bawa, aku ambil menjadi kubawa, kuambil
engkau bawa, engkau ambil menjadi kaubawa, kauambil
Misalnya:
Bolehkan aku ambil jeruk ini satu?
Kalau mau, boleh engkau baca buku itu.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini.
Bolehkah kuambil jeruk ini satu?
Kalau mau, boleh kaubaca buku itu.
1. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Tinggalah bersama saya di sini.
Di mana orang tuamu?
Saya sudah makan di rumah teman.
Ibuku sedang ke luar kota.
Ia pantas tampil ke depan.
Duduklah dulu, saya mau ke dalam sebentar.
Bram berasal dari keluarga terpelajar.
Akan tetapi, perhatikan penulisan yang berikut.
Kinerja Lely lebih baik daripada Tuti.
Kami percaya kepada Ada.
Akhir-akhir ini beliau jarang kemari.
1. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Salah Benar
Sikecil si kecil
Sipemalu si pemalu
Sangdiktator sang diktator
Sangkancil sang kancil
1. Partikel
A. Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah peraturan ini sampai tuntas.
Siapakah tokoh yang menemukan radium?
B. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya.
Satu kali pun Dedy belum pernah datang ke rumahku.
Bukan hanya saya, melainkan dia pun turut serta.
Catatan:
Kelompok berikut ini ditulis serangkaian, misalnya adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.
Misalnya:
Adapun sebab-musababnya sampai sekarang belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya mengajukan permohonan itu.
Baik para dosen maupun mahasiswa ikut menjadi anggota koperasi.
Walaupun hari hujan, ia datang juga.
C. Partikel per yang berarti (demi), dan (tiap) ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ruang satu per satu (satu demi satu).
Harga kain itu Rp 2.000,00 per meter (tiap meter).

C. Pemakaian Tanda baca
1. Tanda titik (.)
A. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Aceh.
Anak kecil itu menangis.
Mereka sedang minum kopi.
Adik bungsunya bekerja di Samarinda.
B. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab.
Misalnya:
III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jendral PMD
B. Direktorat Jendral Agraria
1.Subdit ….
2. Subdit ….

I. Isi Karangan 1. Isi Karangan
A. Uraian Umum 1.1Uraian Umum
B. Ilustrasi 1.2 Ilustrasi
1.Gamba 1.2.1 Gambar
2.Tabel 1.2.2 Tabel
3.Grafik 1.2.3 Grafik
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka pada pengkodean sistem digit jika angka itu merupakan yang terakhir dalam deret angka sebelum judul bab atau subbab.
C.Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu.
Misalnya:
pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)
12.10.20 (12 jam, 10 menit, dan 20 detik)
D. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
E.Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Lawrence, Marry S, Writting as a Thingking Process. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1974.
F. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang.
Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799.
G. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
Catur Untuk Semua Umur (tanpa titk)
Gambar 1: Bentuk Surat Resmi Indonesia Baru (tanpa titik)
H. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim atau tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa titik)
Yth. Bapak. Tarmizi Hakim (tanpa titik)
Jalan Arif Rahman Hakim No. 26 (tanpa titik)
Palembang 12241 (tanpa titik)
Sumatera Selatan (tanpa titik)
Kantor Pengadilan Negeri (tanpa titik)
Jalan Teratai II/ 61 (tanpa titik)
Semarang 17350 (tanpa titik)
1. Tanda koma (,)
A. Tanda koma dipaki di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Reny membeli permen, roti, dan air mineral.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus, memerlukan prangko.
Menteri, pengusaha, serta tukang becak, perlu makan.
B. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didik bukan anak saya, melainkan anak Pak Daud.
C. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Anak Kalimat Induk Kalimat
Kalau hujan tidak reda saya tidak akan pergi
Karena sakit, kakek tidak bisa hadir

Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:


Induk Kalimat Anak Kalimat
Saya tidak akan pergi kalau hujan tidak reda.
Kakek tidak bisa hadir karena sakit.

D.Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
Meskipun begitu, kita harus tetap jaga-jaga.
Jadi, masalahnya tidak semudah itu.
E. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bagus, ya?
Aduh, sakitnya bukan main.
F. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata ibu, ”Saya berbahagia sekali”.
”Saya berbahagia sekali,” kata ibu.
Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta Pusat. Sdr. Zulkifli Amsyah, Jalan Cempaka Wangi VII/11, Jakarta Utara 10640
Jakarta, 11 November 2004
Bangkok, Thailand
G.Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diskusi Insan Mulia, 2001), hlm. 27.
H. Tanda koma dipakai di antara orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
A. Yasser Samad, S.S.
Zukri Karyadi, M.A.
I. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:
Guru saya, Pak Malik, Pandai sekali.
Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih.
Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti praktik komputer.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang tidak diapit oleh tanda koma.
Semua siswa yang berminat mengikuti lomba penulisan resensi segera mendaftarkan namanya kepada panitia.
J. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersunguh-sungguh.
Atas pertolongan Dewi, Kartika mengucapkan terima kasih.
K. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:
”Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta.
”Baca dengan teliti!” ujar Bu Guru.

1. Tanda Titik Koma (;)
A. Tanda titik koma untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual.
B. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghapal nama-nama menteri; saya sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.
C. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan.
Misalnya:
Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamong praja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.




















Pembuktian melalui deduksi
Pembuktian melalui deduksi adalah sebuah jalan pemikiran yang menggunakan argumen-argumen deduktif untuk beralih dari premis-premis yang ada, yang dianggap benar, kepada kesimpulan-kesimpulan, yang mestinya benar apabila premis-premisnya benar.[1]
Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah
• Semua manusia fana (pasti akan mati). (premis mayor)
• Sokrates adalah manusia. (premis minor)
• Sokrates pasti (akan) mati. (kesimpulan)
Untuk pembahasan deduktif secara terinci seperti yang dipahami dalam filsafat, lihat Logika. Untuk pembahasan teknis tentang deduksi seperti yang dipahami dalam matematika, lihat logika matematika.
Penalaran deduktif seringkali dikontraskan dengan penalaran induktif, yang menggunakan sejumlah besar contoh partikulir lalu mengambil kesimpulan umum.
Daftar isi
• 1 Latar belakang
• 2 Logika deduktif
• 3 Deduksi alamiah
• 4 Rujukan budaya
• 5 Bacaan lebih lanjut
• 6 Rujukan

Latar belakang
Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Pythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.[2]
Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah, dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.[3]
Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus; sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umu. Dengan memikirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newton menyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan LeVerrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).
Logika deduktif
Penalaran deduktif didukung oleh logika deduktif.
Misalnya:
Apel adalah buah.
Semua buah tumbuh di pohon.
Karena itu semua apel tumbuh di pohon.
Atau
Apel adalah buah.
Sebagian apel berwarna merah.
Karena itu sebagian buah berwarna merah.
Premis yang pertama mungkin keliru, namun siapapun yang menerima premis ini dipaksa untuk menerima kesimpulannya.
Deduksi alamiah

Penalaran deduktif harus dibedakan dari konsep yang terkait yaitu deduksi alamiah, sebuah pendekatan kepada teori pembuktian bahwa upaya-upaya untuk memberikan sebuah model penalaran logis yang formal sebagaimana ia terjadi "secara alamiah".
Rujukan budaya
Sherlock Holmes, detektif fiktif yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle, terkenal karena rujukannya kepada penalaran deduktif dalam berbagai cerita Doyle. Namun kesimpulan- kesimpulannya yang paling terkenal jelas sekali adalah kasus-kasus abduksi Bacaan lebih lanjut
• Vincent F. Hendricks, Thought 2 Talk: A Crash Course in Reflection and Expression, New York: Automatic Press / VIP, 2005, ISBN 87-991013-7-8
• Zarefsky, David, Argumentation: The Study of Effective Reasoning Parts I and II, The Teaching Company 2002
Rujukan
1. ^ AskOxford, Bartleby, Cambridge Dictionary of American English, Merriam-Webster.
2. ^ Thales of Miletus
3. ^ Brief Discussion on Inductive/Deductive Profiling





Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk suatu proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
Penalaran Deduktif
adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Contoh : yaitu sebuah sistem generalisasi.
Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,
DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,
Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.
Penalaran Induktif
adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial
Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif
kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori.
Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi.
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.






DEDUKSI ATAU PENALARAN DEDUKTIF:
KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA
Fadjar Shadiq
Salah satu hal yang membedakan manusia dari binatang adalah
manusia dikaruniai Allah S.W.T. dengan akal yang paling sempurna (QS
95:4) sehingga manusia dapat bernalar, sedangkan binatang tidak.
Namun sebagian binatang telah dikaruniai dengan insting yang lebih
kuat. Di samping itu, sebagian binatang dikaruniai dengan indera yang
lebih tajam daripada indera manusia. Dengan kemampuan bernalarnya,
manusia dapat berpikir untuk menarik kesimpulan atau menyusun
pernyataan baru dari beberapa premis yang sudah diketahui atau
dianggap benar. Dikenal dua macam penalaran, yaitu penalaran induktif
atau induksi dan penalaran deduktif atau deduksi. Induksi merupakan
proses berpikir di mana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui
benar untuk kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus
yang serupa dengan yang tersebut tadi untuk hal-hal tertentu.
Dari pengalaman bahwa setiap kali menjumlahkan dua bilangan negatif
yang selalu menghasilkan bilangan negatif juga, maka dibuatlah suatu
pernyataan baru yang bersifat umum yaitu hasil penjumlahan setiap dua
bilangan negatif adalah bilangan negatif juga. Teori IPA banyak
disimpulkan menggunakan penalaran induktif (induksi), sedangkan
matematika dikenal bersifat deduktif aksiomatis. Penulis telah
membahas penalaran induktif (induksi), termasuk kelebihan dan
kekurangannya pada buletin LIMAS Edisi 010 yang terbit pada bulan
Oktober 2002. Artikel yang Anda baca kali ini akan membahas tentang
penalaran deduktif (deduksi) beserta kelebihan dan kekurangannya.
Jika suatu pernyataan atau proposisi dilambangkan dengan kalimat
yang memiliki nilai benar saja atau salah saja, maka istilah sahih atau
tidak sahih berkait dengan penalaran/reasoning ataupun argumen.
Contoh suatu pernyataan adalah: “Surabaya ibukota propinsi Jawa
Timur.” Istilah penalaran atau reasoning dijelaskan Copi (1978) sebagai
berikut: “Reasoning is a special kind of thinking in which inference takes
place, in which conclusions are drawn from premises” (p.5). Dengan
demikian jelaslah bahwa penalaran merupakan kegiatan, proses atau
aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu
pernyataan baru berdasar pada beberapa pernyataan yang diketahui
benar ataupun yang dianggap benar. Pernyataan yang diketahui atau
dianggap benar yang menjadi dasar penarikan suatu kesimpulan inilah
yang disebut dengan antesedens atau premis. Sedang hasilnya, suatu
pernyataan baru yang merupakan kesimpulan disebut dengan
konsekuens atau konklusi.
2
PENALARAN DEDUKTIF
Jika setiap siswa di suatu kelas diminta membuat lingkaran lalu mereka
diminta membuat sudut pusat dan sudut keliling yang menghadap busur
yang sama, dan setelah itu mereka diminta mengukur besar kedua sudut
dengan tepat, maka akan didapat besar sudut pusat tersebut adalah dua
kali besar sudut kelilingnya. Pernyataan itu bernilai benar secara
induktif, karena kita telah membuat bentuk umum (general) dari
beberapa kasus khusus. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah:
Yakinkah Anda dengan kesimpulan itu? Untuk meyakinkan kebenaran
teorema tersebut, penarikan kesimpulan berdasar penalaran induktif
saja tidaklah cukup. Matematikawan masih bertumpu pada penalaran
lainnya yang dikenal dengan penalaran deduktif, yang akan dijelaskan
pada bagian berikutnya di bawah ini.
Untuk membuktikan kebenaran pernyataan atau teorema tentang
hubungan sudut pusat dan sudut keliling secara deduktif, maka pada
lingkaran di bawah ini telah dibuat garis pertolongan yang melalui titik C
dan titik O yang memotong lingkarannya di titik D.
Langkah pertamanya adalah dengan memisalkan bahwa DOB = xdan
DOA = y. Perhatikan bahwa pemisalannya bersifat umum di mana x
dan ymewakili besar sudut yang mungkin dari DOB dan DOA.
Dengan demikian, didapat COB = (180 – x)dan AOC = (180 – y).
Segitiga OBC merupakan segitiga samakaki, karena OB = OC (jari-jari),
begitu juga dengan segitiga AOC merupakan segitiga samakaki juga,
sehingga dapat dibuktikan dengan menggunakan sifat-sifat pada segitiga
sama-kaki bahwa DCB = ½ xdan DCA = ½ y. Jadi, secara deduktif
terbukti bahwa sudut pusat besarnya adalah dua kali besar sudut
keliling jika menghadap busur yang sama. Nyatalah sekarang bahwa
untuk membuktikan kebenaran pernyataan di atas secara deduktif,
maka teorema itu telah dibuktikan dengan menggunakan teorema


Pada penalaran deduktif; suaturumus atau dalil yang bersifat umum telah dibuktikan denganmenggunakan atau melibatkan teorema maupun rumus matematikasebelumnya yang bersifat umum juga dan sudah dibuktikankebenarannya secara deduktif. Selanjutnya, teori maupun rumusmatematika yang digunakan sebagai dasar pembuktian tadi telahdibuktikan berdasar teori maupun rumus matematika yang sebelumnyalagi. Begitu seterusnya. Pertanyaan yang dapat dimunculkan adalah:
Bukti paling awal didasarkan pada apa? Ternyata, pembuktiannya
didasarkan pada aksioma, yaitu pernyataan yang dianggap atau
diasumsikan benar.
Contoh lainnya adalah pengetahuan Aljabar yang berkait dengan
bilangan real a, b, dan c terhadap operasi penjumlahan (+) dan perkalian
(.) yang menurut Vance (19..) telah didasarkan pada enam aksioma atau
postulat berikut:
1) tertutup, a + b R dan a.b R.
2) asosiatif, a + (b + c) = (a + b) + c dan a .(b . c) = (a . b) . c
3) komutatif, a + b = b + a dan a.b = b.a
4) distributif, a.(b + c) = a.b + a.c dan (b + c).a = b.a + c.a
5) identitas, a + 0 = 0 + a = a dan a.1 = 1. a = a
6) invers, a + (−a) = (−a) + a = 0 dan a.

.a = 1 untuk a 0.
Berdasar enam aksioma itu, teorema seperti −b + (a + b) = a dapat
dibuktikan sebagai berikut:
−b + (a + b) = −b + (b + a) Aksioma 3 I Komutatif
= (−b + b) + a Aksioma 2 I Asosiatif
= 0 + a Aksioma 6 I Invers
= a Aksioma 5 I Identitas
Dengan demikian jelaslah bahwa bangunan matematika telah disusun
dengan dasar pondasi berupa kumpulan pengertian pangkal (unsur
pangkal dan relasi pangkal) dan kumpulan sifat pangkal (aksioma).
Aksioma atau sifat pangkal adalah semacam dalil yang kebenarannya
tidak perlu dibuktikan namun sangat menentukan, karena sifat pangkal
inilah yang akan menjadi dasar untuk membuktikan dalil atau teorema
matematika selanjutnya. Dengan demikian, unsur utama pekerjaaan
matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi,
yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat
logis dari kebenaran sebelumnya. Pengertian-pengertian matematika
secara berantai didefinisikan dari pengertian sebelumnya yang
bersumber pada pengertian pangkal. Sebagaimana aksioma yang tidak
perlu dibuktikan kebenarannya karena akan menjadi dasar pembuktian
dalil atau sifat berikutnya, maka pengertian pangkal tidak didefinisikan
karena pengertian pangkal akan menjadi dasar pendefinisian pengertianpengertian
atau konsep-konsep matematika berikutnya.
Karenanya, Jacobs (1982:32) menyatakan: “Deductive reasoning is a
method of drawing conclusions from facts that we accept as true by using
logic ”. Artinya, penalaran deduktif adalah suatu cara penarikan
kesimpulan dari pernyataan atau fakta-fakta yang dianggap benar
dengan menggunakan logika. Suatu hal yang sudah jelas benar pun
harus ditunjukkan atau dibuktikan kebenarannya dengan langkahlangkah
yang benar secara deduktif. Itulah sebabnya, bangunan
matematika dikenal sebagai mata pelajaran yang dikembangkan secara
deduktif-aksiomatis. Itulah sebabnya, pernyataan bahwa sudut pusat
besarnya adalah dua kali besar sudut keliling jika menghadap busur
yang sama terkategori bernilai benar secara deduktif, karena sesuai
dengan teori koherensi, pernyataan yang terkandung di dalam kalimat
itu bersifat koheren, konsisten, atau tidak bertentangan dengan
pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Suatu
bangunan matematika akan runtuh jika terdapat sifat, dalil, atau
teorema ada yang saling bertentangan (kontradiksi).
KESAHIHAN PENALARAN DEDUKTIF
Perhatikan contoh berikut:.
(1) Rumah Amin terletak di sebelah barat rumah Akbar.
(2) Rumah Akbar terletak di sebelah barat rumah Abdur
------------------------------------------------------------------------
Jadi, rumah Amin terletak di sebelah barat rumah Abdur (3)
Perhatikan pernyataan 1 dan 2 yang disebut premis dan menjadi dasar
penarikan kesimpulan (yaitu pernyataan 3). Apa yang menarik dari
pernyataan 1, 2, dan 3 di atas? Jika digambarkan, akan didapat diagram
berikut.
Tentunya Anda sendiri, para pembaca naskah ini, tidak akan
mengetahui apakah pernyataan tersebut bernilai benar atau tidak.
Mungkin juga Anda tidak akan mengenal dan tidak akan mengetahui
apakah ketiga orang tersebut benar-benar memiliki rumah. Tetapi Anda
dapat menyatakan bahwa jika premis-premisnya (yaitu pernyataan 1 dan
2) bernilai benar maka kesimpulannya (yaitu pernyataan 3) tidak akan
mungkin untuk bernilai salah. Sekali lagi, jika premis-premisnya bernilai
benar maka kesimpulannya tidak akan mungkin untuk bernilai salah.

Penarikan kesimpulan seperti ini disebut dengan penarikan kesimpulan
yang sah, sahih, valid, absah, atau correct. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Giere (84:39) berikut: “Any argument in which the truth of the
premises makes it impossible that the conclusion could be false is called a
deductively valid argument." Yang artinya, setiap argumen di mana
kebenaran dari premis-premisnya tidak memungkinkan bagi
kesimpulannya untuk salah disebut dengan argumen yang sah atau
valid. Penarikan kesimpulan di atas dikenal dengan nama sylogisme dan
bentuk umumnya adalah:
p _ q
q _ r
------------
p _ r
Perhatikan contoh lain dari penarikan kesimpulan atau argumen
deduktif beserta bentuk umumnya berikut ini:
Semua manusia Indonesia jago logika p _ q
Amin manusia Indonesia p
-------------------------------- ----------
Jadi, Amin jago logika q
Jika x = −3 maka x2 = 9 p _ q
x2 = 9 q
-------------------------------- ----------
Jadi x = −3 p
Contoh penarikan kesimpulan pertama di atas dikenal dengan modus
ponens dan merupakan penarikan kesimpulan yang sahih, sedangkan
contoh kedua merupakan penarikan kesimpulan yang tidak sahih.
Perhatikan contoh pertama di atas sekali lagi. Jika premis argumen
tersebut bernilai benar, maka tidak mungkin kesimpulannya bernilai
salah. Contoh kedua merupakan penarikan kesimpulan yang tidak
sahih, karena jika premis argumen tersebut bernilai benar, maka
kesimpulannya masih mungkin bernilai salah, yaitu untuk nilai x = 3.
Giere (1984) mencontohkan juga bahwa dari suatu premis-premis yang
bernilai salah akan dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bernilai
salah maupun yang bernilai benar melalui suatu proses penarikan
kesimpulan yang valid berikut ini.
Babi adalah binatang bersayap. (Salah)
Semua binatang bersayap tidak dapat terbang. (Salah)
--------------------------------------------------------------------------
Jadi, babi tidak dapat terbang (Benar)
6
Bulan lebih besar daripada bumi. (Salah)
Bumi lebih besar daripada matahari. (Salah)
--------------------------------------------------------------------------
Jadi, bulan lebih besar daripada matahari (Salah)
KELEBIHAN PENALARAN DEDUKTIF
Pada proses induksi atau penalaran induktif akan didapatkan suatu
pernyataan baru yang bersifat umum (general) yang melebihi kasuskasus
khususnya (knowledge expanding), dan inilah yang diidentifikasi
sebagai suatu kelebihan dari induksi jika dibandingkan dengan deduksi.
Hal ini pulalah yang menjadi kelemahan deduksi. Pada penalaran
deduktif, kesimpulannya tidak pernah melebihi premisnya. Inilah yang
ditengarai menjadi kekurangan deduksi.
Perhatikan sekali lagi contoh induksi berikut:
Mangga manalagi yang masih muda kecut rasanya.
Mangga harum manis yang masih muda kecut rasanya.
Mangga udang yang masih muda kecut rasanya.
Mangga .... yang masih muda kecut rasanya.
------------------------------------------------------------------------
Jadi, semua mangga yang masih muda kecut rasanya.
Kesimpulan di atas bernilai benar karena sampai saat ini belum ada
mangga yang masih muda yang tidak kecut rasanya. Pernyataan itu
akan bernilai salah jika sudah ada ilmuwan yang menghasilkan mangga
yang tidak kecut rasanya meskipun masih muda. Dengan demikian,
hasil yang didapat dari induksi tersebut masih berpeluang untuk
menjadi salah. Sedangkan pada deduksi yang valid atau sahih,
kesimpulan yang didapat diklaim tidak akan pernah salah jika premispremisnya
bernilai benar (truth preserving), sebagaimana ditunjukkan
tadi. Inilah yang diidentifikasi sebagai kelebihan dari deduksi jika
dibandingkan dengan hasil pada proses induksi.
Sampai saat ini, para filsuf sedang memimpikan suatu bentuk argumen
atau penalaran yang dapat menghasilkan pernyataan baru yang bersifat
umum yang melebihi kasus-kasus khususnya (knowledge expanding);
dan hasilnya tidak akan salah jika premis-premisnya bernilai benar
(truth preserving). Menurut Giere (1984:45), impian para filsuf tersebut
tidak akan terlaksana dan manusia dituntut untuk memilih salah satu
sesuai dengan kebutuhannya sebagaimana pernyataannya: “The
philosophers’ dream of finding a form of argument that would be both truth
preserving and knowledge expanding is an impossible dream. You must
choose one or the other. You cannot both.” Pernyataan Giere ini telah
menunjukkan bahwa kedua penalaran itu memiliki kelemahan dan
7
kekuatannya sendiri-sendiri. Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa
pada penalaran deduktif yang valid, jika premisnya bernilai benar maka
kesimpulannya tidak akan pernah bernilai salah. Namun jika premisnya
bernilai salah maka kesimpulannya bisa bernilai salah dan bisa juga
bernilai salah.